Pendidikan di Indonesia kini sedang menghadapi tantangan besar. Bukan hanya soal kualitas pengajaran atau infrastruktur, tetapi juga bagaimana pendidikan yang seharusnya menjadi jalan untuk membangun masa depan yang cerah justru terlihat seperti alat yang menakut-nakuti generasi muda. Dalam konteks ini, kita perlu memahami bahwa pendidikan tidak lagi sekadar mencerdaskan, melainkan telah berubah menjadi sistem yang memperkuat ketakutan akan masa depan.
Pendidikan yang Terdistorsi
Dari banyaknya perubahan kurikulum, penekanan pada ujian akademik, hingga kebijakan pendidikan yang sering berubah, pendidikan di Indonesia tampaknya lebih fokus pada hasil yang bisa diukur secara kuantitatif. Hal ini berlawanan dengan visi pendidikan yang dulu digagas oleh tokoh-tokoh seperti Kartini dan Ki Hajar Dewantara. Mereka memandang pendidikan sebagai alat untuk membentuk manusia yang utuh, baik dalam pikiran maupun budi pekerti.
Kartini, misalnya, menyatakan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya untuk meningkatkan kecerdasan akal, tetapi juga untuk membentuk kepribadian yang luhur. Namun, saat ini, pendidikan sering kali hanya mengejar angka dan kelulusan tanpa mempertimbangkan aspek spiritual dan moral peserta didik.
Kritik terhadap Sistem Pendidikan Saat Ini
![]()
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti baru-baru ini mengumumkan perubahan besar dalam sistem pendidikan, termasuk kembalinya sistem penjurusan di SMA dan penggunaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Meskipun pemerintah berargumen bahwa perubahan ini bertujuan untuk memberikan kejelasan bagi lembaga pendidikan di luar negeri, banyak kalangan mengkritik tindakan ini sebagai langkah yang terlalu sering berubah-ubah.
Anggota DPR Sofyan Tan menyoroti bahwa pergantian kurikulum sering kali berdampak buruk terhadap guru dan siswa. Perubahan yang terlalu cepat membuat mereka kesulitan untuk beradaptasi, sementara tujuan pendidikan justru semakin jauh dari konsep awalnya.
Masalah Pragmatisme dalam Pendidikan

Salah satu masalah utama dalam pendidikan saat ini adalah dominasi pragmatisme. Banyak siswa dan guru terjebak dalam sistem yang hanya mengejar target kelulusan, ujian, dan nilai. Hal ini menyebabkan munculnya gejala seperti kecurangan dalam ujian nasional, program sertifikasi pendidik yang lebih bersifat formalitas, serta sekolah dan kampus yang terlalu fokus pada pungutan.
Ini mencerminkan bahwa pendidikan kini lebih menekankan aspek lahiriah daripada spiritual. Padahal, seperti yang ditegaskan Kartini, pendidikan seharusnya membentuk individu yang memiliki watak dan jati diri bangsa yang kuat.
Solusi untuk Pendidikan yang Lebih Berkelanjutan

Untuk mengembalikan makna pendidikan yang sebenarnya, beberapa langkah perlu dilakukan:
-
Memperkuat Aspek Spiritual dan Moral
Pendidikan harus kembali menekankan pembentukan karakter dan budi pekerti. Sekolah dan universitas perlu mengintegrasikan nilai-nilai agama, etika, dan kejujuran dalam kurikulum. -
Meningkatkan Kualitas Guru
Guru adalah tulang punggung pendidikan. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan pelatihan berkala dan fasilitas yang cukup agar guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik. -
Mengurangi Tekanan Akademik
Sistem evaluasi harus diubah agar tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga potensi kreativitas, keterampilan, dan kepribadian siswa. -
Mendorong Partisipasi Masyarakat
Orang tua dan masyarakat perlu lebih aktif terlibat dalam proses pendidikan. Mereka bisa menjadi mitra dalam membentuk anak-anak yang lebih tangguh dan berwawasan luas. -
Menjaga Keberlanjutan Kurikulum
Perubahan kurikulum harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan kebutuhan jangka panjang, bukan hanya untuk kepentingan jangka pendek.
Kesimpulan
Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan menuju masa depan yang cerah kini terlihat seperti alat yang menakut-nakuti. Kita perlu mengingat bahwa pendidikan tidak hanya tentang menghasilkan lulusan yang berprestasi, tetapi juga tentang membentuk manusia yang utuh, baik dalam pikiran maupun hati. Dengan memperbaiki sistem pendidikan, kita bisa mengembalikan makna pendidikan yang sebenarnya dan memastikan bahwa masa depan generasi muda Indonesia tidak lagi ditakuti, tetapi dibangun dengan harapan dan kepercayaan.