Letusan gunung berapi aktif kembali mengguncang wilayah Indonesia, memicu kepanikan di kalangan warga sekitar. Peristiwa ini terjadi dalam beberapa hari terakhir, dengan tiga gunung berapi utama yang melaporkan aktivitas vulkanik yang meningkat. Letusan tersebut tidak hanya mengancam keselamatan warga tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari di sekitar daerah rawan bencana.
Letusan Gunung Ibu di Maluku Utara: Kekacauan yang Menghiasi Langit
Pada Sabtu (11/1), Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali meletus. Erupsi ini tercatat dalam seismogram dengan amplitudo maksimal 28 mm dan durasi 3 menit 5 detik. Tinggi kolom abu mencapai sekitar 4.000 meter di atas puncak, dengan warna kelabu yang condong ke arah barat. Lontaran lava pijar juga terjadi hingga jarak 2 kilometer dari pusat kawah.
Meski tidak ada korban jiwa, letusan ini membuat ribuan warga terpaksa berlari menyelamatkan diri. Pemerintah setempat telah memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi erupsi gunung berapi. Wilayah sekitar Gunung Ibu kini dilarang untuk dihuni selama masa siaga darurat. Radius rekomendasi diperluas menjadi 4 kilometer dan 5,5 kilometer sektoral ke arah bukaan kawah di bagian utara kawah aktif.
Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur: Ancaman Terus Berlanjut

Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, juga masih dalam kondisi aktif. Selama seminggu terakhir, aktivitas erupsi tercatat sebanyak enam kali. Gempa letusan terjadi enam kali, gempa hembusan 135 kali, gempa harmonik 99 kali, dan gempa low frekuensi delapan kali. Pengamatan visual menunjukkan bahwa tinggi kolom erupsinya naik menjadi 600-1.200 meter.
Selain itu, terdapat indikasi adanya api diam di sekitar puncak, yang menandakan adanya lava yang terdorong ke permukaan. Masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi dan sektoral barat daya-timur laut sejauh 6 kilometer.
Gunung Merapi di Jawa Tengah: Masih dalam Level Siaga Tinggi

Gunung Merapi yang berada di empat wilayah administratif, yaitu Kabupaten Klaten, Magelang, Boyolali, dan Sleman, masih dalam level III atau Siaga sejak November 2020. Aktivitas vulkaniknya cukup tinggi hingga awal 2025. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dan pemerintah daerah terus memantau situasi ini.
Dalam monitoring BPPTKG, curah hujan di atas puncak bervariasi antara 8 milimeter hingga di atas 100 milimeter. Potensi bahaya saat ini termasuk awan panas dan banjir lahar hujan. Wilayah potensi bahaya seperti Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Woro, dan Gendol harus dihindari oleh masyarakat.
Respons Pemerintah dan Masyarakat: Kesiapsiagaan yang Kritis

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan tiga gunung berapi sebagai fokus utama dalam penanganan dan siaga darurat. Pemerintah daerah setempat bekerja sama dengan PVMBG untuk memberikan rekomendasi dan pengawasan terhadap masyarakat. Edukasi tentang tindakan yang perlu diambil saat terjadi erupsi sangat penting untuk mencegah korban jiwa.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa pemahaman masyarakat akan risiko bencana adalah kunci utama dalam mengurangi dampak negatif dari letusan gunung berapi. Warga sekitar maupun pendatang diharapkan dapat mematuhi rekomendasi yang diberikan.
Kesimpulan: Persiapan yang Harus Dilakukan

Letusan gunung berapi aktif yang terjadi di Indonesia merupakan peringatan bahwa masyarakat harus selalu waspada. Meskipun tidak semua letusan mengakibatkan kerugian besar, ancaman yang terus-menerus memerlukan kesiapan yang matang. Pemerintah dan lembaga terkait harus terus meningkatkan sistem peringatan dini dan edukasi kepada masyarakat. Dengan demikian, ketika terjadi letusan, warga akan lebih siap dan cepat bertindak untuk menyelamatkan diri.
Perlu dipahami bahwa letusan gunung berapi bukanlah hal yang langka di Indonesia. Dengan jumlah gunung berapi aktif yang banyak, kehati-hatian dan persiapan adalah kunci untuk menghadapi ancaman alam ini. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga kebencanaan, kita dapat mengurangi risiko dan menjaga keselamatan bersama.