Di tengah dinamika politik yang terus berubah, generasi Z di Indonesia menunjukkan peran penting dalam menggerakkan perubahan melalui aksi jalanan dan media sosial. Mereka tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga aktor utama dalam memperjuangkan keadilan, transparansi, dan partisipasi demokratis. Peristiwa seperti protes terhadap RUU KUHP pada 2019 menjadi bukti nyata bagaimana gerakan ini mampu mengguncang sistem otoritas yang selama ini dianggap stabil.
Aksi Jalanan dan Media Sosial sebagai Alat Perubahan
Gerakan generasi Z tidak lagi bergantung pada organisasi formal atau partai politik. Mereka lebih memilih pendekatan organik dan spontan, yang dipicu oleh isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, aksi protes terhadap tunjangan anggota DPR yang dinilai tidak wajar menjadi awal dari gelombang protes yang kemudian menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia, isu ini berdampak pada munculnya tagar #MahasiswaBergerak dan #GejayanMemanggil, yang menjadi jembatan antara diskusi online dan aksi nyata di lapangan.
Media sosial, khususnya Twitter, menjadi alat utama untuk menyebarkan informasi, menggalang dukungan, dan membangun kesadaran kolektif. Analisis dari Drone Emprit menunjukkan bahwa interaksi di media sosial sangat tinggi, dengan ratusan ribu cuitan yang membahas isu RUU KUHP. Hal ini mencerminkan bahwa gerakan ini tidak hanya bersifat virtual, tetapi juga memiliki dampak nyata di dunia nyata.
Penyebab dan Ciri Khas Gerakan Generasi Z

Penyebab utama gerakan generasi Z adalah ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang dianggap korup dan tidak mampu menjawab kebutuhan rakyat. Masalah seperti kesenjangan sosial, biaya hidup yang tinggi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi pemicu utama. Di banyak negara, termasuk Filipina, Timor Leste, dan Madagaskar, aksi ini berujung pada perubahan pemerintahan, meskipun belum sepenuhnya menghasilkan kepemimpinan dari generasi muda.
Ciri khas gerakan ini adalah sifatnya yang organik dan spontan. Peserta aksi tidak perlu bergabung dengan organisasi tertentu, cukup menyebarkan informasi melalui media sosial. Namun, kelemahan dari pendekatan ini adalah kurangnya tokoh pemimpin yang muncul dari gerakan tersebut. Meski berhasil melengserkan penguasa lama, masih banyak kepemimpinan baru yang berasal dari generasi tua.
Dampak dan Tantangan

Meski gerakan ini berhasil membangkitkan kesadaran publik, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah sulitnya mempertahankan momentum setelah aksi berakhir. Selain itu, adanya ancaman dari pihak berwenang, seperti penindasan oleh polisi atau pembatasan ruang gerak, juga menjadi hambatan. Di Maroko, misalnya, aksi protes berujung pada tindakan keras yang mengakibatkan korban jiwa dan penangkapan massal.
Namun, di sisi lain, kekuatan media sosial memberikan ruang bagi generasi Z untuk tetap bertahan. Viralitas isu dan keterlibatan masyarakat luas memastikan bahwa suara mereka tidak mudah diredam. Bahkan, gerakan ini telah membuktikan bahwa perubahan bisa terjadi tanpa perlu membangun struktur formal.
Kesimpulan

Krisis otoritas yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa generasi Z tidak lagi bisa diabaikan dalam dinamika politik. Mereka menggunakan aksi jalanan dan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan aspirasi mereka. Meski masih ada tantangan, peran mereka dalam menggeser paradigma otoritas dan memperkuat partisipasi demokratis tidak dapat dipandang remeh. Dengan semangat dan inovasi yang dimiliki, generasi Z akan terus menjadi agen perubahan yang signifikan di masa depan.