Komunisme dan agama sering kali dianggap sebagai dua arus yang bertolak belakang. Namun, sejarah menunjukkan bahwa hubungan keduanya lebih kompleks dari sekadar konflik. Dari pandangan Karl Marx hingga kebijakan partai komunis di berbagai negara, pertarungan antara ideologi ini telah membentuk wajah politik dan sosial masyarakat selama ratusan tahun. Di Indonesia, isu ini masih hangat dibicarakan, terutama setelah peristiwa 1965 yang memperkuat stigma negatif terhadap komunisme.
Apa Itu Komunisme?
Komunisme adalah sebuah ideologi politik dan ekonomi yang bertujuan menghapuskan kelas-kelas sosial dan menciptakan masyarakat tanpa ketimpangan. Ideologi ini lahir dari pemikiran Karl Marx dan Friedrich Engels, yang menyatakan bahwa sistem kapitalis menciptakan ketidakadilan dengan memperkaya kelas borjuasi sementara kelas pekerja tertindas. Marx melihat agama sebagai “candu bagi rakyat” yang mengalihkan perhatian orang-orang dari realitas kesengsaraan mereka.
Namun, penting untuk memahami bahwa Marx tidak secara langsung membenci agama. Ia hanya mengkritik peran institusi agama yang dianggap mendukung ketidakadilan sosial. Dalam konteks ini, komunisme bukanlah musuh agama, tetapi ideologi yang ingin mengubah struktur sosial agar manusia tidak lagi bergantung pada agama sebagai pelipur lara.
Pandangan Lenin tentang Agama

Vladimir Lenin, tokoh penting dalam sejarah komunisme, memperluas pandangan Marx tentang agama. Ia melihat agama sebagai bentuk penindasan spiritual yang harus dihancurkan demi kebebasan rakyat. Dalam esainya Socialism and Religion (1905), Lenin menyatakan bahwa agama adalah “kabut” yang menghalangi rakyat untuk melihat kenyataan sosial mereka. Ia menekankan pentingnya pemisahan gereja dan negara serta penghapusan subsidi negara untuk lembaga keagamaan.
Di Uni Soviet, kebijakan anti-agama diterapkan secara agresif, termasuk penutupan tempat ibadah dan pembunuhan para pemimpin agama. Hal ini memperkuat persepsi bahwa komunisme adalah musuh agama. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya, tindakan represif ini lebih mencerminkan otoritarianisme negara daripada esensi ideologi komunisme itu sendiri.
Komunisme di Indonesia: PKI dan Hubungan dengan Agama
![]()
Di Indonesia, Partai Komunis Indonesia (PKI) memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama. Meskipun PKI dianggap sebagai partai komunis, mereka tidak sepenuhnya menolak agama. DN Aidit, salah satu tokoh utama PKI, menegaskan bahwa PKI menghormati Pancasila, termasuk sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia juga menekankan bahwa agama adalah urusan pribadi dan PKI tidak melarang anggotanya untuk memeluk agama.
Aidit menjelaskan bahwa agama bisa menjadi kekuatan revolusioner jika digunakan untuk melawan kolonialisme dan feodalisme. Namun, ia juga mengkritik penggunaan agama sebagai alat penindasan oleh elit. Dalam pandangan PKI, agama harus dipisahkan dari negara dan pendidikan agar tidak digunakan untuk memperkuat ketimpangan.
Komunisme dan Agama dalam Perspektif Global

Tidak semua negara yang menerapkan ideologi komunis bersikap sama terhadap agama. Contohnya, Tiongkok, meskipun dikenal sebagai negara komunis, tetap mengakui lima agama resmi. Negara tersebut mengatur praktik keagamaan melalui kebijakan negara, namun tidak menghapuskan keberadaan agama dalam kehidupan warganya.
Di sisi lain, ada negara-negara yang menerapkan ateisme secara total, seperti Albania di bawah Enver Hoxha. Gereja dan masjid dihancurkan, sementara ulama dan pendeta dipenjarakan. Ini menunjukkan bahwa sikap terhadap agama dalam komunisme sangat tergantung pada penguasa dan kebijakan negara.
Kesimpulan: Komunisme dan Agama Bukan Musuh Abadi

Meskipun komunisme sering dikaitkan dengan ateisme dan anti-agama, kenyataannya lebih kompleks. Banyak tokoh komunis seperti Marx dan Lenin hanya mengkritik fungsi agama dalam sistem kapitalis, bukan agama itu sendiri. Di Indonesia, PKI menunjukkan bahwa komunisme tidak harus berlawanan dengan agama, asalkan agama tidak digunakan untuk memperkuat ketimpangan.
Pertarungan abadi antara komunisme dan agama tidak hanya terjadi dalam politik, tetapi juga dalam pikiran manusia. Setiap individu harus memahami bahwa ideologi dan keyakinan adalah bagian dari perjalanan manusia menuju keadilan dan kedamaian. Dengan dialog yang terbuka, prasangka dapat dikikis, dan perbedaan pandangan dapat hidup berdampingan secara damai.