Sebuah pengakuan yang menggegerkan dunia politik dan masyarakat Indonesia muncul dari seorang mantan pejabat. Isu tentang hubungan antara komunis dan para pemimpin negara kembali menjadi sorotan, meskipun isu ini sering kali dianggap sebagai mitos atau narasi yang tidak berdasar. Pengakuan tersebut memicu diskusi luas di kalangan akademisi, aktivis, dan publik umum.
Latar Belakang Isu Komunis di Indonesia
Di dalam negeri, urusan komunis adalah soal sensitif yang ditangani dengan sangat serius, bahkan cenderung berlebihan. Di luar negeri, Indonesia menjalin hubungan dengan negara komunis tanpa kecemasan. Meski Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah dibubarkan Soeharto pada tahun 1966, hingga kini lima puluh empat tahun kemudian, ternyata masih banyak ada saja orang Indonesia yang percaya paham komunis masih ada dan patut dicemaskan karena masih ampuh menarik pengikut.
Namun, fakta historis menunjukkan bahwa komunisme sebagai ideologi gagal dalam mensejahterakan masyarakat. Karl Marx, bapak komunis dunia, gagal melawan kapitalisme. Bahkan, ia dan keluarganya hidup dalam kemiskinan, sakit-sakitan bahkan beberapa anaknya meninggal dunia. Ini menunjukkan bahwa ideologi komunis tidak selalu berkaitan dengan kesuksesan atau kesejahteraan.
Pengakuan Mantan Pejabat

Pengakuan mantan pejabat ini menciptakan gelombang reaksi di media dan kalangan politik. Ia menyatakan bahwa terdapat hubungan rahasia antara komunis dan para pemimpin negara. Namun, pengakuan ini belum dapat diverifikasi secara lengkap. Beberapa ahli menganggapnya sebagai upaya untuk memperkuat narasi anti-komunis yang sudah lama beredar.
Beberapa faktor yang mendukung isu ini antara lain:
- Siklus isu komunis yang muncul saban September, bulan keramat sejak peristiwa Gerakan 30 September 1965.
- Kecemasan publik terhadap penyebaran isu komunisme, terutama saat RUU Haluan Ideologi Pancasila diperdebatkan.
- Peran organisasi seperti FPI yang sering menuding tindakan tertentu sebagai aksi komunis.
Masa Depan Komunis di Indonesia

Meski isu komunis sering muncul, faktanya komunisme sudah menjadi ideologi usang. Negara-negara yang menerapkan ideologi ini, seperti Tiongkok, Korea Utara, Kuba, Vietnam, dan Laos, kini lebih banyak mengadopsi prinsip kapitalis. Tiongkok, misalnya, telah menjadi kekuatan ekonomi global yang sangat kuat.
Indonesia, sebagai negara yang memiliki kebijakan luar negeri bebas dan aktif, menjalin hubungan dengan semua negara termasuk negara komunis. Pemimpin bangsa atau pemimpin partai politik di Indonesia pun bebas dan bisa menjalin hubungan dengan Partai Komunis yang berkuasa di suatu negara.
Reaksi Publik dan Ahli

Reaksi publik terhadap pengakuan mantan pejabat ini sangat beragam. Sebagian besar masyarakat masih paranoid terhadap hantu komunisme, meski tidak ada bukti nyata yang menunjukkan adanya ancaman. Sementara itu, para ahli menilai bahwa isu komunis sering kali digunakan sebagai alat untuk memecah belah masyarakat.
Hasil survei Wahid Foundation tahun 2017 menunjukkan bahwa komunis paling dibenci nomor dua oleh Muslim di Indonesia. Tahun 2018, komunis naik menjadi nomor satu paling dibenci meski Wahid Foundation tak pernah merinci alasan kebencian tersebut.
Kesimpulan

Pengakuan mantan pejabat tentang hubungan komunis dan para pemimpin negara memicu debat luas di kalangan masyarakat. Meski isu ini sering kali dianggap sebagai mitos, fakta historis menunjukkan bahwa komunisme tidak lagi relevan sebagai ideologi pemerintahan. Indonesia, dengan kebijakan luar negerinya yang bebas dan aktif, tetap menjalin hubungan dengan negara-negara komunis.
Masyarakat perlu lebih kritis dalam menilai isu-isu seperti ini. Edukasi dan dialog yang sehat akan membantu mencegah konflik horizontal di masyarakat. Dengan demikian, isu komunis tidak lagi menjadi hal sensitif dan tabu untuk dibicarakan dalam ranah ilmiah, forum intelektual, atau bahkan dalam kelompok buruh dan petani.