Film dokumenter budaya daerah Indonesia 2025 menjadi salah satu karya yang sangat menarik perhatian masyarakat dan para pecinta seni. Di tengah semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya, film-film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan promosi pariwisata. Berikut adalah daftar film dokumenter budaya daerah Indonesia tahun 2025 yang wajib ditonton.
Film Dokumenter tentang Pariwisata Ternate
Salah satu film dokumenter budaya daerah Indonesia 2025 yang menarik adalah karya produser film asal Prancis Zidane William Estel. Ia mengabadikan pariwisata Kota Ternate, Maluku Utara, melalui film dokumenter yang akan disiarkan stasiun televisi Prancis Juni mendatang. Zidane tertarik pada peninggalan sejarah seperti benteng era kolonial, panorama alam, dan wisata bahari daerah ini. Ia memilih lokasi seperti Taman 1000 di Benteng Kota Janji, Pulau Maitara, dan Pulau Tidore untuk menggambarkan keindahan Ternate.
Film ini tidak hanya menampilkan pemandangan alam yang indah, tetapi juga mengangkat nilai-nilai budaya lokal yang masih terjaga. Dukungan dari masyarakat Ternate dan Wakil Wali Kota Arifin Djafar membuat film ini memiliki potensi besar dalam mempromosikan pariwisata Ternate ke luar negeri.
Film “Sangkal Sangkol” yang Mengangkat Seni Budaya Madura

Film dokumenter budaya daerah Indonesia 2025 lainnya yang patut diperhatikan adalah “Sangkal Sangkol”. Film ini diproduksi untuk mengangkat dan melestarikan seni budaya khas Kabupaten Sumenep, Madura, khususnya tradisi kesenian Ojhung. Dengan genre semi dokumenter, film ini menggabungkan unsur fiksi dan dokumentasi budaya secara autentik.
Cerita dalam film ini mengisahkan perjalanan Saber, seorang pemuda yang pulang ke kampung halaman setelah lama menetap di kota. Kepulangannya bukan tanpa alasan—kematian sang ayah membangkitkan luka lama yang telah lama ia pendam. Di tengah upayanya menyelesaikan dendam masa lalu, Saber dihadapkan pada sebuah tradisi unik desa, yakni penyelesaian konflik melalui “silaturahmi” khas daerah tersebut yang erat kaitannya dengan kesenian Ojhung.
Film ini memiliki tujuan yang lebih luas, seperti mempopulerkan seni Ojhung dalam bentuk sinema dokumenter, menjadi ruang ekspresi bagi para pegiat film di Kabupaten Sumenep, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya.
Film “Holy Water di Hutan Nandini” yang Memperkenalkan Bali ke Eropa

Sutradara Ian Wibowo kembali mengeluarkan karya terbarunya di tahun 2024 ini. Film bertajuk Holy Water di Hutan Nandini merupakan film dokumenter yang mengangkat keindahan hutan di Ubud, Bali yang masih rimbun serta dilengkapi dengan aliran sungai. Proses syuting di hutan belantara menuntut Ian Wibowo untuk sangat memperhatikan keselamatan tim dan talentnya.
Dalam menggarap film dokumenter ini, Ian Wibowo menggandeng Magnus Falk sebagai host. Magnus Falk sendiri pemilik dari Nandini Jungle Forest Ubud, Bali. Ia sangat antusias saat diminta untuk membantu produksi film dokumenter yang mengangkat kisah tentang air suci di Hutan Nandini, Ubud, Bali. Tak hanya itu, Barbie Kumalasari juga turut serta sebagai co-host.
Magnus Falk berharap lewat film dokumenter ini bisa mempromosikan Bali di kancah Internasional. Ia juga berharap film Holy Water di Hutan Nandini bisa trending di negara-negara Eropa.
Kesimpulan

Film dokumenter budaya daerah Indonesia 2025 tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi media promosi dan pelestarian budaya. Dari Ternate hingga Bali, film-film ini menunjukkan kekayaan budaya dan alam Indonesia yang luar biasa. Dengan dukungan dari masyarakat dan pengusaha film, film-film ini memiliki potensi besar untuk mencapai popularitas dan pengakuan internasional.