Sejarah panjang Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam berbagai peristiwa penting, terutama G30S 1965. Namun, seiring waktu, isu komunisme sering dijadikan alat politik jangka pendek yang memperkuat polarisasi masyarakat, terutama dalam konteks keagamaan dan ideologi. Fenomena ini menciptakan stigma negatif terhadap PKI dan penganut komunis, bahkan hingga kini.
Sejarah Awal dan Konstruksi Sosial Anti-Komunis

Persepsi anti-komunis di kalangan Muslim Indonesia tidak lepas dari persaingan politik antara kelompok kiri dan Islam. Peristiwa Madiun pada 1948 menjadi salah satu titik awal ketegangan tersebut. Saat itu, Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang terdiri dari PKI, Partai Sosialis, dan Partai Buruh Indonesia, melawan pemerintah. Bagi kelompok antikomunis, ini bukan hanya pemberontakan, tetapi juga serangan terhadap umat Islam. Hal ini memicu anggapan bahwa komunis memusuhi agama.
Selain itu, Peristiwa Kanigoro 1965 memperkuat narasi anti-komunis. Buku Putih yang diterbitkan setelah insiden tersebut menyebarkan informasi bahwa PKI menghina nilai-nilai Islam. Meskipun PKI membantah tudingan tersebut, narasi ini terus berkembang dan menjadi dasar persepsi publik.
Media sebagai Alat Propaganda

Media seperti buku, film, dan pertunjukan seni sering digunakan untuk memperkuat stereotip anti-komunis. Film “Pengkhianatan G30S PKI” menjadi salah satu contoh. Film ini menayangkan versi negara atas peristiwa G30S, yang kemudian dianggap sebagai kebenaran oleh kelompok antikomunis. Selain itu, pertunjukan ludruk yang dianggap menghina kelompok antikomunis juga sering digunakan sebagai sarana propaganda politik.
Isu PKI dalam Politik Modern

Isu PKI masih sering muncul dalam dinamika politik modern, terutama menjelang Pemilu. Contohnya, saat kampanye pemilu presiden 2014, Presiden Joko Widodo dituduh sebagai keturunan PKI. Tidak hanya itu, banyak hoaks yang menyebarkan informasi palsu tentang PKI, seperti tuduhan bahwa pembangunan tambang emas di Banyuwangi dilakukan oleh PKI.
Dampak Negatif dari Stigma Anti-Komunis

Stigma anti-komunis memiliki dampak besar pada masyarakat, termasuk penindasan terhadap individu yang diduga terkait dengan PKI. Misalnya, Heri Budiawan (Budi Pego) dihukum karena dituduh memasang logo PKI. Selain itu, banyak orang enggan membicarakan pembunuhan massal terhadap ribuan orang yang diduga komunis pada 1965-1966, karena takut dianggap anti-Islam.
Kesimpulan
Isu komunis sering dijadikan alat politik jangka pendek untuk memperkuat polarisasi dan memperkuat persepsi negatif terhadap PKI. Meskipun PKI telah dibubarkan dan larangan ajaran komunisme diatur dalam konstitusi, stigma ini masih bertahan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kesadaran kolektif untuk memahami sejarah secara objektif dan menghindari penggunaan isu komunis untuk tujuan politik yang tidak sehat.