Sejarah dan Pandangan Karl Marx tentang Agama
Karl Marx, salah satu tokoh penting dalam pengembangan ideologi komunis, memiliki pandangan yang kompleks terhadap agama. Dalam karya-karyanya seperti Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), ia menyatakan bahwa “agama adalah opium rakyat.” Pernyataan ini sering dianggap sebagai sikap permusuhan terhadap agama. Namun, konteksnya lebih pada kritik terhadap peran institusi agama yang dianggap mendukung status quo ketidakadilan sosial. Marx melihat agama sebagai pelipur lara bagi mereka yang tertindas, yang menawarkan harapan di tengah penderitaan duniawi, namun secara tidak langsung menghalangi perubahan sosial.
Pandangan Lenin terhadap Agama

Vladimir Lenin, tokoh penting dalam sejarah komunisme, mengembangkan pandangan Karl Marx dengan pendekatan yang lebih praktis dan strategis. Dalam esainya Socialism and Religion (1905), Lenin menyebut agama sebagai “salah satu bentuk penindasan spiritual.” Ia menegaskan bahwa agama adalah produk dari penderitaan dan eksploitasi kelas pekerja, sebuah “kabut” yang menghalangi rakyat untuk melihat kenyataan sosial mereka yang sebenarnya. Menurut Lenin, agama tidak hanya menenangkan penderitaan tetapi juga memperkuat struktur kapitalisme dengan mengajarkan kepasrahan dan penghargaan terhadap penderitaan sebagai jalan menuju surga.
Kebijakan Anti-Agama di Eropa Timur

Di Eropa Timur, kebijakan anti-agama diterapkan secara sistematis oleh rezim-rezim komunis, terutama oleh Partai Bolshevik di Uni Soviet. Pada tahun 1920, Kongres Kedelapan Partai Komunis Rusia secara resmi menetapkan kebijakan anti-agama, menegaskan bahwa komunisme tidak cukup hanya dengan pemisahan gereja dan negara, tetapi harus secara aktif menghancurkan pengaruh agama di masyarakat. Gereja-gereja di Rusia disita, properti mereka dirampas, dan banyak pemimpin agama dipenjara atau dieksekusi. Misalnya, antara 1920 dan 1930, lebih dari 28 uskup dan 1.200 imam Ortodoks dibunuh di Uni Soviet.
Kasus Berbeda: Pandangan PKI terhadap Agama

Partai Komunis Indonesia (PKI) berbeda dengan Soviet, mengambil pandangan yang lebih pragmatis, menyadari bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat agamais. Dalam wawancaranya dengan majalah Pembina pada tahun 1964, DN Aidit menegaskan bahwa PKI menghormati Pancasila, termasuk sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia menekankan bahwa agama adalah urusan pribadi, dan PKI tidak melarang anggotanya untuk memeluk agama. Namun, dalam pandangan Aidit, Marxisme adalah alat untuk memahami akar sosial dari agama. Ia menyatakan bahwa “agama yang progresif dapat menjadi kekuatan revolusioner melawan kolonialisme dan feodalisme.”
Perbedaan Pendekatan Komunis terhadap Agama

Perlakuan komunis terhadap agama tergantung pada masing-masing partai dan seberapa besar kekuasaan mereka di suatu negara. Di Tiongkok, meskipun dikenal sebagai negara komunis, masih mengakui lima agama resmi: Buddha, Taoisme, Islam, Katolik, dan Protestan. Negara tersebut mengatur praktik keagamaan melalui kebijakan negara, namun tidak menghapuskan keberadaan agama dalam kehidupan warganya. Sementara itu, di Albania, Enver Hoxha mendeklarasikan negara tersebut sebagai negara ateis pertama di dunia pada 1967. Gereja dan masjid dihancurkan, sementara ulama dan pendeta dipenjarakan.
Mitos dan Realitas: Apakah Komunisme Benar-benar Bertentangan dengan Agama?
Komunisme sering kali dianggap sebagai ideologi yang bertentangan dengan agama. Pernyataan seperti “agama adalah candu masyarakat” sering dikutip sebagai bukti dari pandangan anti-agama yang melekat pada komunisme. Namun, apakah benar komunisme membenci agama? Mari kita telusuri sejarah dan pandangan para pemikir komunisme terhadap agama. Marx tidak sekadar mengkritik agama, tetapi melihatnya sebagai produk dari ketidakadilan sosial. Dalam pandangan Marx, agama adalah manifestasi dari realitas yang terdistorsi. Ketika ketidakadilan dan alienasi dihilangkan melalui revolusi sosial, Marx percaya bahwa kebutuhan akan agama juga akan menghilang.
Kesimpulan
Pertarungan antara agama dan ideologi komunis telah berlangsung selama berabad-abad. Meski ada beberapa negara yang menerapkan kebijakan anti-agama, tidak semua partai komunis bersikap sama. Pendekatan PKI terhadap agama menunjukkan bahwa komunisme tidak selalu bertentangan dengan keyakinan spiritual. Dengan memahami kompleksitas hubungan antara ideologi dan kepercayaan, masyarakat bisa membangun dialog yang lebih berimbang dan terbuka. Hanya dengan cara ini, prasangka yang mengakar dapat dikikis, memberikan ruang bagi perbedaan pandangan untuk hidup berdampingan secara damai.