Pendidikan di Indonesia kini tengah menghadapi tantangan serius. Banyak orang yang berpendidikan tinggi, bahkan lulusan universitas ternama, justru terlibat dalam tindakan-tindakan tidak terpuji seperti korupsi, suap, dan kecurangan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: Apakah sistem pendidikan kita saat ini sudah gagal dalam membentuk individu yang memiliki akal sehat dan kesadaran kewarganegaraan yang kuat? Jawabannya mungkin lebih kompleks dari yang kita bayangkan.
Pendidikan yang Terfokus pada Hasil, Bukan Proses
Sistem pendidikan formal di Indonesia sering kali hanya memprioritaskan hasil ujian dan gelar, bukan proses pembelajaran yang mendalam. Hal ini membuat siswa lebih fokus pada hafalan daripada pemahaman. Akibatnya, mereka tidak dilatih untuk berpikir kritis atau mengambil keputusan dengan akal sehat. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi alat untuk mencapai tujuan pribadi, bukan sarana untuk berkembang sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Berdasarkan survei Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 78% kasus menyontek ditemui di sekolah dan 98% di kampus. Angka ini menunjukkan bahwa integritas pelajar semakin menurun. Dede Puji Setiono, PhD dari Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang masih terjebak antara idealisme dan realitas pragmatis. Nilai kejujuran kalah saing dengan keinginan pelajar untuk cepat selesai.
Kehilangan Akal Sehat dan Kesadaran Kewarganegaraan

Akal sehat dan kesadaran kewarganegaraan adalah dua hal yang seharusnya menjadi fondasi pendidikan. Namun, kini banyak siswa yang tidak diajarkan untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka. Contohnya, banyak orang yang berpendidikan tinggi tetapi tidak sadar bahwa korupsi adalah tindakan dosa dan haram. Mereka justru merasa bangga ketika berhasil memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar.
Sosiolog Ignas Kleden pernah menyatakan bahwa pendidikan kita tidak mengajarkan orang untuk berpikir, tetapi untuk tunduk pada kekuasaan. Hal ini menciptakan generasi yang cenderung taat pada otoritas, bukan pada akal sehat. Dalam konteks politik dan sosial, ini bisa berdampak buruk karena individu yang tidak memiliki kemampuan berpikir kritis mudah dipengaruhi oleh kekuasaan yang tidak demokratis.
Pendidikan yang Tidak Mengajarkan Etika dan Moral

Salah satu aspek penting yang sering diabaikan dalam pendidikan adalah pengajaran etika dan moral. Banyak sekolah dan universitas fokus pada ilmu pengetahuan teknis, sementara nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati diabaikan. Akibatnya, siswa tidak dilatih untuk memahami pentingnya perilaku yang benar dan beretika.
Ignas Kleden mencontohkan bagaimana pendidikan di Jerman lebih fokus pada praktik daripada teori. Anak-anak tidak hanya belajar tentang sesuatu, tetapi juga bagaimana mempraktikkannya. Misalnya, ketika belajar bahasa Inggris, mereka langsung berkomunikasi dengan teman dari luar negeri. Pendekatan ini melatih keterampilan nyata dan membangun rasa percaya diri.
Perlu Revisi Kurikulum dan Sistem Evaluasi

Untuk mengembalikan pendidikan ke arah yang lebih sehat, kurikulum dan sistem evaluasi harus direvisi. Selain mengurangi jam hafalan, kurikulum perlu mencakup proyek sosial yang melatih empati dan kejujuran. Sistem evaluasi juga perlu berubah dari hanya menguji ingatan menjadi menguji kemampuan berpikir kritis dan solusi masalah.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa guru dan dosen memiliki gaji yang layak, karena peran mereka sangat penting dalam membentuk budaya dan politik yang benar. Pendidikan juga harus menjadi isu politik yang sentral, bukan sekadar persoalan teknis.
Kesimpulan

Pendidikan yang baik seharusnya tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter. Saat ini, banyak siswa yang berpendidikan tinggi tetapi tidak memiliki akal sehat dan kesadaran kewarganegaraan yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita perlu direformasi secara menyeluruh. Dengan revisi kurikulum, peningkatan kualitas pengajar, dan perubahan pola evaluasi, pendidikan dapat kembali menjadi alat untuk menciptakan warga negara yang berakal sehat dan bertanggung jawab.