Di tengah dinamika global dan perubahan sosial yang terjadi, generasi Z di Indonesia semakin menaruh perhatian pada isu-isu politik dan ideologi. Salah satu tema yang sering muncul dalam diskusi mereka adalah komunisme. Bagaimana pandangan generasi Z terhadap komunisme? Apakah mereka melihatnya sebagai ancaman nyata atau justru sekadar romantisasi dari masa lalu? Pertanyaan ini menjadi penting untuk dipahami, mengingat generasi muda memiliki peran besar dalam membentuk masa depan bangsa.
Persepsi Generasi Z terhadap Komunisme
Generasi Z, yang lahir setelah tahun 1997, tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak mengalami langsung peristiwa G30S/PKI, sehingga pemahaman mereka tentang sejarah ini sering kali bersifat teoretis dan kurang mendalam. Banyak dari mereka mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya memahami konteks sejarah komunisme di Indonesia, terutama terkait Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dampaknya terhadap negara.
Namun, meskipun kurang paham secara historis, banyak generasi Z merasa bahwa komunisme sering kali diberi label negatif tanpa dasar yang jelas. Mereka melihat bagaimana narasi anti-komunis sering kali disampaikan secara sepihak, tanpa memberikan ruang bagi kritik atau pemahaman yang lebih luas. Hal ini membuat mereka cenderung skeptis terhadap informasi yang selama ini disampaikan oleh media dan pendidikan.
Kecenderungan Romantisasi Ideologi

Beberapa anggota generasi Z tampaknya tertarik pada konsep-konsep idealis dari komunisme, seperti kesetaraan, keadilan sosial, dan penghapusan kelas. Mereka melihat komunisme sebagai solusi untuk masalah-masalah ekonomi dan ketidakadilan yang masih ada di masyarakat. Dalam diskusi online, banyak dari mereka menyebutkan bahwa mereka ingin melihat sistem yang lebih adil, bahkan jika itu berarti mengubah struktur pemerintahan.
Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran. Jika generasi Z hanya melihat sisi positif dari komunisme tanpa memahami risiko dan kegagalan sejarahnya, maka mereka bisa saja terjebak dalam romantisme yang tidak realistis. Di sisi lain, ada juga yang menganggap bahwa komunisme tidak relevan lagi dalam dunia modern, terutama karena kegagalan sistem tersebut di berbagai negara.
Tantangan dalam Pendidikan dan Kesadaran
Pendidikan di Indonesia, terutama di tingkat sekolah, sering kali mengajarkan sejarah komunisme secara sepihak. Narasi yang diberikan biasanya berfokus pada ancaman PKI dan dampak buruknya terhadap persatuan bangsa. Namun, sedikit sekali yang membahas aspek-aspek filosofis atau teori-teori komunisme secara kritis. Ini membuat generasi muda sulit membangun persepsi yang seimbang.
Selain itu, penyebaran informasi melalui media sosial juga memengaruhi cara generasi Z memahami komunisme. Banyak dari mereka mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, termasuk video-video yang memperlihatkan komunisme sebagai gerakan revolusioner. Hal ini memperkuat stigma atau keyakinan yang tidak sepenuhnya didasarkan pada fakta.
Langkah untuk Memahami Lebih Baik
Untuk mengurangi prasangka dan meningkatkan pemahaman, beberapa langkah penting perlu dilakukan:
- Pendidikan yang lebih inklusif: Menyediakan materi pembelajaran yang lebih objektif dan mencakup berbagai perspektif.
- Diskusi terbuka: Mendorong dialog antara generasi muda dan para ahli sejarah atau ilmuwan.
- Edukasi media literasi: Membantu generasi Z mengenali sumber informasi yang valid dan menghindari hoaks.
- Penguatan Pancasila: Memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila diajarkan dengan baik, bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pedoman hidup.
Kesimpulan
Komunisme di mata generasi Z bukanlah sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai “bahaya” atau “romantisasi” secara mutlak. Mereka memiliki pandangan yang beragam, tergantung pada latar belakang, pengalaman, dan sumber informasi yang mereka akses. Namun, penting untuk memastikan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang cukup tentang sejarah dan implikasi dari ideologi ini, agar mereka tidak terjebak dalam prasangka atau romantisme yang tidak realistis.
Dengan pendidikan yang lebih baik dan dialog yang terbuka, generasi Z bisa menjadi agen perubahan yang mampu memahami tantangan masa depan dengan lebih bijak dan cerdas.