Komunisme, sebagai ideologi yang pernah menjadi ancaman serius bagi stabilitas politik dan sosial Indonesia, kini kembali menjadi topik panas dalam diskusi publik. Meskipun Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah dibubarkan sejak tahun 1966 oleh Presiden Soeharto, isu komunisme masih terus muncul, terutama dalam konteks pemilu, kebijakan pendidikan, atau peristiwa-peristiwa tertentu. Pertanyaannya adalah: apakah komunisme benar-benar masih menjadi ancaman ideologis di Indonesia saat ini?
Sejarah Komunisme di Indonesia
Komunisme di Indonesia memiliki akar yang dalam, terutama setelah berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1913. PKI sempat menjadi partai politik yang kuat, terutama di kalangan petani dan buruh. Namun, peristiwa G30S pada tahun 1965 menjadi titik balik yang menyebabkan pembubaran PKI dan penghapusan ajaran komunisme dari ruang publik.
Meski begitu, isu komunisme tidak pernah benar-benar hilang. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok seperti Front Pembela Islam (FPI) sering kali menuding kelompok tertentu sebagai “komunis”, bahkan dalam kasus penusukan Syekh Ali Jaber. Hal ini mencerminkan adanya paranoia terhadap komunisme yang belum sepenuhnya hilang dari masyarakat Indonesia.
Siklus Isu Komunisme di Indonesia
Isu komunisme sering muncul dalam siklus tertentu, terutama di bulan September, yang dianggap sebagai bulan keramat karena peristiwa G30S. Selain itu, isu ini juga sering muncul menjelang pemilihan umum. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, misalnya, seringkali menjadi sasaran tudingan komunis meskipun ia sendiri tidak terlibat dalam gerakan komunis.
Kenyataannya, isu komunisme sering digunakan untuk membangun narasi yang merugikan pihak tertentu tanpa dasar bukti. Ini bisa berbahaya karena dapat menciptakan prasangka dan ketakutan yang tidak perlu. Dalam survei Wahid Foundation tahun 2018, komunis disebut sebagai paling dibenci oleh Muslim di Indonesia, meski alasan kebencian tersebut tidak jelas.
Komunisme sebagai Ideologi Usang
Dari segi historis, komunisme sudah menjadi ideologi usang. Negara-negara yang pernah menerapkan sistem komunis, seperti Uni Soviet dan Blok Timur, telah runtuh. Saat ini, hanya beberapa negara seperti Tiongkok, Korea Utara, Kuba, Vietnam, dan Laos yang masih menerapkan sistem komunis, tetapi dengan modifikasi yang sangat besar.
Tiongkok, misalnya, tidak lagi menerapkan komunisme secara murni, melainkan mengadopsi sistem ekonomi kapitalis yang sangat dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa komunisme tidak lagi relevan sebagai solusi untuk masalah ekonomi dan sosial modern.
Hubungan Indonesia dengan Negara-Negara Komunis
Di luar negeri, Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara komunis tanpa kecemasan. Pemerintah Indonesia bebas berhubungan dengan Partai Komunis Cina, Vietnam, dan lainnya. Bahkan, kunjungan pejabat tinggi dari negara-negara komunis ke Indonesia sering kali dilakukan tanpa ada penolakan atau kecurigaan.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak alergi terhadap komunisme sebagai ideologi, meskipun dalam negeri, pemerintah melarang ajaran komunisme dan pendirian partai komunis. Di dalam negeri, pemerintah cukup galak dalam mengatur isu-isu yang berkaitan dengan komunisme, termasuk melarang penerbitan buku atau diskusi tentang komunisme.
Komunisme dan Masyarakat Indonesia
Komunisme tidak memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat Indonesia yang semakin religius. Paham khilafah, yang lebih sesuai dengan nilai-nilai agama, justru lebih mudah menarik pengikut dibandingkan komunisme yang dianggap kuno dan tidak relevan.
Selain itu, masyarakat Indonesia kini lebih terbuka terhadap dialog dan edukasi. Banyak ilmuwan, penulis, dan aktivis yang ingin memahami sejarah komunisme dan memberikan perspektif yang lebih objektif. Dengan demikian, isu komunisme tidak lagi menjadi hal yang sensitif dan tabu untuk dibicarakan dalam ranah ilmiah atau forum intelektual.
Rekonsiliasi dan Edukasi
Rekonsiliasi antara korban dan pelaku Peristiwa ’65 diperlukan untuk memperbaiki kesalahpahaman dan meningkatkan pemahaman sejarah. Pemerintah perlu membuka ruang untuk dialog dan pengungkapan fakta sejarah Peristiwa ’65, baik melalui pendidikan formal maupun media massa.
Edukasi yang tepat akan membantu masyarakat memahami bahwa komunisme bukanlah ancaman yang nyata, melainkan sebuah ideologi yang gagal dalam penerapannya. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi melihat komunisme sebagai ancaman yang harus ditakuti, melainkan sebagai bagian dari sejarah yang perlu dipahami.
Kesimpulan
Perdebatan tentang komunisme di Indonesia masih berlangsung, tetapi tidak lagi sebagai ancaman ideologis yang nyata. Komunisme sudah menjadi ideologi usang yang tidak lagi relevan dalam konteks modern. Meskipun isu komunisme masih muncul dalam berbagai bentuk, penting bagi masyarakat untuk memahami sejarah dan konteksnya agar tidak terjebak dalam prasangka dan ketakutan yang tidak perlu.
Dengan edukasi yang tepat dan dialog yang terbuka, masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dalam menghadapi isu-isu yang berkaitan dengan komunisme. Dengan demikian, komunisme tidak lagi menjadi ancaman, tetapi menjadi bagian dari sejarah yang perlu dipahami dan dipelajari.


