Skandal Naturalisasi Pemain Timnas Malaysia: Dokumen Dipalsukan, FIFA Beri Sanksi
Kasus naturalisasi pemain Timnas Malaysia kembali menjadi perhatian setelah FIFA mengungkap dugaan manipulasi dokumen yang dilakukan oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Tujuh pemain yang dinaturalisasi pada tahun ini akhirnya mendapat sanksi dari FIFA karena dianggap memiliki status keturunan yang tidak sah.
Dalam laporan resmi FIFA, ditemukan bukti-bukti bahwa dokumen-dokumen yang diajukan FAM untuk proses naturalisasi pemain telah dipalsukan. Hal ini memicu hukuman larangan bermain selama satu tahun dan denda sebesar 2.000 franc Swiss atau sekitar Rp41 juta per pemain. Selain itu, FAM juga dikenai denda sebesar 350.000 franc Swiss (Rp7,2 miliar) sebagai bentuk sanksi atas tindakan ilegal tersebut.
Akta Kelahiran Kakek/Nenek Pemain Diungkap Media Argentina
Salah satu kasus paling mencolok adalah terkait akta kelahiran kakek Facundo Garces dan Imanol Machuca. Media Argentina, Capital de Noticias, mengklaim telah menemukan dokumen resmi yang menunjukkan bahwa kakek Garces, Carlos Rogelio Fernández, lahir di Santa Fe, Argentina, bukan di Penang, Malaysia seperti yang dinyatakan FAM. Sementara itu, akta kelahiran nenek Imanol Machuca, Concepción Agueda Alaniz, juga menunjukkan bahwa ia lahir di Roldan, Provinsi Santa Fe, Argentina, bukan di Penang seperti yang diajukan FAM.
Akta Kakek Hector Hevel Ditemukan Netizen, Arsip Belanda Tak Bisa Dimanipulasi
Hector Hevel, pemain asal Belanda yang dinaturalisasi oleh FAM, juga menjadi sorotan. Netizen Indonesia berhasil menemukan akta kakek Hector, Hendrik Jan Hevel, yang ternyata lahir di Den Haag, Belanda. Arsip tersebut tersedia di situs penyedia arsip Belanda, Wiewaswie.nl. Kebiasaan rapi dalam pengarsipan dokumen di Belanda membuat data seperti ini sulit dimanipulasi.
Pemain Keceplosan: Facundo Garces Mengaku Keturunan Malaysia dari Kakek Buyut
Facundo Garces membuat heboh saat menyebut bahwa darah Malaysianya berasal dari kakek buyutnya. Namun, FIFA hanya mengakui keturunan hingga kakek atau nenek untuk proses naturalisasi. Pernyataan ini memicu keraguan tentang legalitas status keturunannya. Garces kemudian buru-buru melakukan klarifikasi, tetapi hal ini semakin memperkuat dugaan manipulasi dokumen.
Pemain Keceplosan: Nenek Saya Lahir di Spanyol, Sorry Maksudnya Malaysia
Gabriel Palmero juga keceplosan saat disidang FIFA. Ia awalnya mengaku bahwa kakeknya berasal dari Venezuela dan neneknya dari Spanyol. Tapi tak lama kemudian, ia mengoreksi sendiri pernyataannya, mengklaim bahwa keduanya sebenarnya berasal dari Malaysia. Perubahan keterangan ini semakin menambah kebingungan karena sang pemain tidak dapat menunjukkan dokumen yang sebelumnya ia serahkan kepada agennya.
Akta Lahir Diedit, Typo
Dalam dokumen milik Jon Irazabal, ditemukan adanya kesalahan penulisan pada berkas yang diduga dipalsukan. Tertulis “Luching”, padahal seharusnya “Kuching”. Selain itu, terdapat pula indikasi kuat manipulasi dokumen, seperti bagian yang tampak diputihkan atau diblur untuk menutupi informasi tertentu. Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa dokumen tersebut telah mengalami proses pemalsuan.
Pemain Teken Dokumen Tanpa Tahu Isinya
Dalam argumen tertulis, dokumen, dan pengajuan kepada komite FIFA, ketujuh pemain tersebut mengaku tidak membaca dokumen aplikasi kewarganegaraan yang diajukan kepada pemerintah Malaysia. Hal ini termasuk pernyataan dalam aplikasi bahwa mereka telah tinggal di Malaysia setidaknya selama 10 tahun. Pernyataan yang sama dalam formulir aplikasi mengharuskan pelamar untuk bersumpah bahwa dokumen yang mereka serahkan adalah benar, dan pernyataan palsu apa pun dapat dipenjara selama dua tahun atau didenda.
Pejabat yang Diskors Masih Beraktivitas
FIFA juga mengkritik keras ketidakjelasan implementasi skorsing terhadap Sekjen FAM, Noor Azman Rahman. Meski disebut telah diskors, ia tetap terlihat menghadiri sejumlah acara resmi, termasuk kegiatan yang juga dihadiri perwakilan FIFA. FIFA menilai kondisi ini merusak kredibilitas FAM, karena tindakan skorsing tampak lebih sebagai strategi hubungan publik ketimbang langkah disipliner yang nyata.
Upaya FAM Mengajukan Banding ke CAS
FAM lalu mengajukan banding, namun ditolak oleh FIFA. Rencananya, mereka akan maju ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS). Namun, FIFA telah mengeluarkan bukti-bukti yang menyanggah status legal tujuh pemain itu, sehingga kasus ini menjadi sorotan internasional.